Astralis Gagal Pertahankan diri di DreamHack 2020 Spring

Astralis Gagal Pertahankan diri di DreamHack 2020 Spring

Tim terbaik asal Denmark, Astralis, kembali menuai kekalahan di DreamHack 2020 Spring regional Eropa. Tim yang dipimpin oleh Emil “Magisk” Reif ini resmi tersingkir dari lower bracket ronde pertama. Secara mengejutkan, Astralis kalah dalam pertempuran melawan Ninja in Pyjamas.

Dilansir dari HLTV dan Liquipedia, perjuangan Astralis di DreamHack 2020 Spring Europe memang bisa dibilang tidak semulus yang dibayangkan. Tim ini tak bermain maksimal di pertandingan grup. Mereka hanya mampu menempati posisi kedua dengan dua kali kemenangan. Bagaimana review pertandingan Astralis di babak Playoff kemarin?

Terlibat Duel Ketat, Astralis Kalah dari NIP

Astralis Gagal Pertahankan diri di DreamHack 2020 Spring
Dotesports

Pertandingan antara Astralis dan Ninja in Pyjamas di lower bracket DreamHack 2020 Spring berlangsung sangat ketat. Tiga map yang dipilih pada pertandingan ini adalah Train, Nuke, dan Overpass. Bagaimana performa kedua tim tersebut?

Di Train, NIP berhasil membuat keunggulan terlebih dahulu. Tim asal Swedia tersebut akhirnya mampu mengalahkan Astralis dengan selisih skor yang cukup jauh. Pertandingan berakhir dengan skor 12-16. NIP memenangkan babak pertama.

Lanjut di map Nuke, giliran Astralis yang membalas kekalahan mereka. Magisk dan kawan-kawan bertanding dengan cepat sejak awal pertandingan. Mereka menunjukkan performa yang luar biasa. Pertandingan di babak kedua pun berakhir dengan skor 16-8. Usai menguasai pertandingan di babak kedua, Astralis pun berhasil menyamakan kedudukan.

Karena skor imbang, map Overpass pun menjadi penentu perjuangan mereka. Pertandingan berlangsung lebih ketat dari sebelumnya. Baik Astralis maupun NIP tak mau bermain santai. Usai mencoba saling menaklukkan, map Overpass akhirnya berhasil dikuasai oleh NIP. Skor akhir mereka adalah 18-22.

Kekalahan ini menjadi yang kedua kalinya bagi Astralis di bulan Juni 2020 ini. Sebelumnya, pada turnamen BLAST Premier: Spring 2020 European Showdown, Astralis juga dikalahkan oleh NIP. Apakah Astralis mulai kehilangan kehebatannya usai perombakan roster?

Tim-Tim yang Masih Bertahan di Playoffs DreamHack 2020 Spring

Astralis Gagal Pertahankan diri di DreamHack 2020 Spring

Playoffs DreamHack 2020 Spring digelar dengan sistem double bracket. Ada 4 tim yang bertanding di upper bracket dan 8 tim di lower bracket. Di upper bracket, dua tim yang gagal akan turun ke lower bracket. Sementara itu, di lower bracket, 4 tim harus tersingkir karena tidak berhasil memenangkan pertandingan.

Di upper bracket final, dua tim siap bertanding. Mereka adalah G2 Esports dan BIB. Keduanya akan bertanding pada tanggal 11 Juni 2020.

Sementara itu, Natus Vincere dan FaZe Clan yang kalah akan turun ke lower bracket ronde ketiga. Mereka tinggal menunggu tim yang berhasil memenangkan duel di lower bracket ronde kedua. Untuk sementara itu, berikut adalah tim-tim yang masih bertahan di playoffs DreamHack 2020 Spring Eropa.

  1. G2 Esports
  2. BIG
  3. Fnatic
  4. MAD Lions
  5. Team Vitality
  6. Ninja in Pyjamas
  7. FaZe Clan
  8. Natus Vincere

Siapakah tim yang akan tereliminasi lebih dahulu dari 8 tim di atas, ikuti terus pembahasannya di sini, ya. Anda akan selalu mendapatkan informasi ter-update.

Roster Baru Astralis Belum Bisa Menunjukkan Kehebatan Mereka

Astralis Gagal Pertahankan diri di DreamHack 2020 Spring

Sejak Mei 2020, roster Astralis mengalami perombakan roster. Pada 19 Mei 2020, Lukas “gla1ve” Rossander memutuskan untuk rehat sejenak dari padatnya turnamen CS: GO. Pemain yang sudah bergabung sejak 2016 tersebut memutuskan mengambil waktu istirahat untuk memulihkan kesehatannya.

Tak lama setelah gla1ve memutuskan rehat, pemain lainnya, yakni Andreas “Xyp9x” Hojsleh juga ikut mengambil rehat. Pada 28 Mei 2020, Xyp9x resmi mundur dari roster utama.

Sebelum gla1ve resmi mundur, Astralis sudah mendatangkan pemain baru, yakni Jakob “JUGi” Hansen. Pemain tersebut menggantikan posisi gla1ve. Kemudian, usai Xyp9x mundur, Astralis juga mendatangkan pemain asal Denmark lainnya, yakni Marco “Snappi” Pfeiffer. Roster mereka pun lengkap kembali.

Akan tetapi, mereka sepertinya belum bisa bekerja sama dengan baik. Sejak Juni 2020, roster tersebut belum menunjukkan performa yang mengagumkan seperti sebelumnya. Tim ini pun perlahan-lahan turun dari posisinya sebagai tim terbaik CS: GO.

Menurut Anda, apakah Astralis bisa kembali menduduki tahta sebagai tim CS:GO terbaik dunia? Kita lihat saja nanti. Demikian adalah ulasan mengenai DreamHack 2020 Spring untuk regional Eropa. Semoga menambah wawasan Anda.

Leave a Reply