Kasus Rasisme Membuat Atlet CSGO Kena Banned

Kasus rasisme pada kejuaraan esports memang sering kali terjadi. Kali ini, kasus serupa terjadi pada atlet perempuan asal Rusia, yaitu Tatiana “Sindi” Gracheva. Sebagai pelaku rasisme, ia pun mendapat banyak kecaman dari komunitas Counter Strike Global Offensive. Tak hanya itu, atas kasusnya tersebut, Sindi juga mendapatkan larangan untuk bermain di platform FACEIT untuk sementara.

Kasus rasisme memang sangat sering terjadi pada kejuaraan esports. Akan tetapi, baru kali ini pelakunya adalah perempuan. Isu rasisme ini tentu ditentang keras oleh komunitas CS: GO di manapun mereka berada. Pemain yang melontarkan isu rasisme juga dianggap Toxic dan memang layak untuk mendapatkan hukuman.

Alur Peristiwa Rasis yang Dilakukan oleh Sindi

Kata-kata rasis tersebut dilontarkan oleh Sindi melalui chat in game pada pertandingan FACEIT Pro League cabang CS: GO. Masalah ini terjadi saat sindi yang bermain bersama pacarnya melawan tim yang kebetulan adalah teman lamanya bernama “melonheadxP” serta satu pemain profesional asal Swedia, yaitu Robin “robiin” Sjogren.

Masalah ini bermula saat tim lawan kalah bermain dengan Sindi. Karena tak terima, tim melonheadxP mengungkit skandal masa lalu Sindi dengan mantannya. Sindi yang terpancing emosi pun pada akhirnya melontarkan kata-kata rasis kepada melonheadxP. Tim lawan kemudian merekam kata-kata kasar tersebut kemudian memviralkannya melalui twitter.

Sampai hari ini, kicauan di twitter tersebut sudah mendapatkan reaksi oleh ribuan orang. Pihak FACEIT sebagai penyelenggara acara pun langsung bertindak tegas. Atas kasusnya ini, Sindi mendapatkan larangan bermain 3 hari pada FACEIT PRO league.

Meski begitu, pihak pelapor, melonheadxP masih merasa hukuman tersebut terlalu ringan dan tidak akan membuat pemain menjadi jera. Komentar ini juga kembali mendapatkan dukungan oleh beberapa orang dalam komunitas CS: GO. Meski sering terjadi, nampaknya kasus rasisme ini memang tidak termaafkan oleh sebagian besar orang. Mereka yang menentang rasisme mengharapkan hukuman yang lebih tegas agar tak ada atlet esports yang membuat masalah serupa.

Permintaan Maaf dari Sindi

Tak lama setelah kasus ini viral, Sindi pun mengungkapkan permintaan maafnya kepada komunitas yang merasa tersakiti akibat perkataannya. Sindi mengaku sudah melewati batas karena menggunakan kata-kata kasar dan rasis. Meski begitu, ia tak begitu menyalahkan dirinya karena pihak tim lawan Robin “robiin” Sjogren sebagai pemain profesional juga melakukan kesalahan karena secara sengaja mengungkit kejadian masa lalu dirinya. Ia juga menekankan bahwa untuk ke depannya, ia akan terus berusaha berubah untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi.

Sebagai atlet perempuan Counter Strike Global Offensive, Sindi sempat menjadi bagian London Conspiracy fe serta tim ternama lain, yaitu ARES fe. Pencapaian terbaik Sindi adalah pada tahun 2017 lalu ketika ia menjadi juara kedua pada kejuaraan Copenhagen Games Female tahun 2017. Timnya hanya kalah oleh Secret fe yang pada saat itu diisi oleh pemain Julia “Juliano” Kiran serta kawan-kawannya.

Adanya kejadian rasisme yang dilakukan oleh Sindi tentu akan menjadi catatan buruk dalam kariernya sebagai atlet CS: GO. Ke depan, diharapkan Sindi dan pemain-pemain lain lebih profesional dalam bermain. Bagaimanapun, kejuaraan esports ini akan menjadi perhatian dunia. Isu-isu rasis ini tentu akan menodai sportivitas dalam kejuaraan esports dan bisa saja memicu konflik yang berkepanjangan. Kasus rasisme ini tentu akan berakibat pada karier pemain sebagai atlet Counter Strike Global Offensive profesional.

 

Leave a Reply