Lagi, Kebobrokan Manajemen NIP Terungkap

NiP

Kebobrokan manajemen Ninjas in Pyjamas (NIP) beberapa waktu lalu telah diungkapkan oleh mantan pemainnya, yaitu Fifflaren. Kebobrokan yang diungkapkan mantan pemain NIP tersebut berkaitan dengan masalah pembagian uang hadiah, gaji, pajak, hingga perilaku manajemen yang sangat ingin menyingkirkan dirinya.

Pernyataan Fifflaren ini ternyata bukan omong kosong semata. Ia juga mendapatkan dukungan dari beberapa rekan setimnya, yaitu Xizt dan juga Friberg. Dua pemain Counter Strike: Global Offensive ini juga mengalami masalah yang sama dengan Fifflaren, yaitu mendapatkan gaji yang sangat rendah dan tidak menerima uang hadiah dari turnamen. Xuzt dan Friberg juga membenarkan adanya masalah pajak.

Keberanian Fifflaren dalam mengungkapkan keburukan manajemen NIP sepertinya menjadi peluang pihak lain untuk ikut serta menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami. Setelah Fifflaren, setidaknya ada 3 pihak lain yang ikut menyuarakan keburukan manajemen dan juga kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan oleh NIP. Seperti apa pernyataan mereka?

Pihak pertama datang dari mantan manajer NIP, yaitu Benji Jenssens. Di NIP, Benji awalnya masuk sebagai Community Manajer pada Mei 2016 silam. Ia tahu bahwa pekerjaannya di NIP adalah pekerjaan sukarela. Meskipun begitu, Ia tetap bekerja dengan sepenuh hati untuk berinteraksi dengan para penggemar NIP.

Meski telah bekerja dengan sepenuh hati, pihak manajemen tidak pernah memberikan kredit apa pun terhadap kinerja dari Benji. Benji pun melakukan komplain. Akan tetapi, Benji justru kehilangan akses ke akun sosial media NIP.

Fifflaren

Setelah dikonfirmasi, CEO NIP, Hicham Chahine, justru beralasan bahwa manajemen sedang melakukan “pembersihan”. Akan tetapi, pihak manajemen NIP justru mengungkapkan bahwa pihak manajemen ingin mengatur sendiri urusan media sosial secara internal. Ini berarti Benji diberhentikan secara sepihak.

Tak hanya Benji, pihak kedua yang mengungkapkan kebobrokan manajemen adalah seorang designer Freelancer Maradesign. Seperti Benji, Mara juga bekerja di divisi yang sama, yaitu media sosial NIP. Mara bekerja secara sukarela dan dibayar. Ia telah menghasilkan lebih dari 60 design untuk NIP.

Meski dibayar, bayaran yang diterima oleh Mara tak sebanding dengan kinerjanya. Ia hanya menerima kupon yang bisa ditukarkan di toko NIP. Selain itu, ia tak menerima bayaran apa pun.

Pihak manajemen sempat menjanjikan posisi untuk Mara di dalam tim NIP. Akan tetapi, lagi-lagi janji tersebut hanya omong kosong belaka. Setiap kali sang designer menanyakan pada manajemen tentang bayaran dan juga tawaran posisi untuknya, pihak manajemen terus-terusan mengabaikannya.

Pihak ketiga yang juga mengungkapkan keburukan NIP adalah Kevin Mikkelsen, seorang Co-Founder LGB Esports dan juga Mantan Operational Manager. Berbeda dengan kasus Benji dan Mara, Kevin justru bermasalah dengan manajemen lama NIP dan juga CEO NIP saat ini.

Pada tahun 2015 lau, LGB membubarkan roster utamanya dan terus beroperasi di bawah naungan NIP. Di bawah kepemimpinan Per Lillifelth, NIP membentuk roster perempuan. Kevin pun bertugas untuk mengurus roster tersebut. Ia mengerjakan apa saja yang dibutuhkan. Akan tetapi, kevin tak menerima bayaran.

Saat Hicham menjabat sebagai CEO menggantikan Per, keadaan pun tak berubah sama sekali. Hicham sebagai CEO baru seakan tutup mata dengan keadaan Kevin. Keadaan ini tentu sangat tidak menguntungkan untuk Kevin.

Itulah beberapa keburukan manajemen NIP yang dirasakan oleh orang-orang yang pernah terlibat langsung dengan NIP. Sampai sekarang, belum ada respon apa pun dari pihak NIP. Kasus-kasus yang dialami oleh pihak-pihak yang pernah bekerja dengan NIP ini tentu sangat disayangkan.

Leave a Reply