Setelah NIP, Kebobrokan QBF juga Terbongkar?

Quantum Bellator Fire (QBF) adalah salah satu tim Counter Strike: Global Offensive asal rusia yang pernah dibela oleh Kirill “Boombl4” Mikhailov. Belum genap satu minggu setelah kita mendengar kebobrokan manajemen Ninja in Pyjamas (NIP) yang diungkap oleh Fifflaren, dunia CS: GO dikejutkan dengan berita yang hampir serupa. QBF ternyata juga mempunyai manajemen yang cukup buruk. Hal ini diungkapkan oleh salah satu mantan pemainnya, yaitu Boombl4.

Berbeda dengan Robin “Fifflaren” Johansson yang mengungkapkannya secara terang-terangan, Boombl4 tidak demikian. Pemain asal Rusia yang saat ini bermain di bawah bendera Natus Vincere ini hanya mengungkapkannya melalui cuitan di twitter. Ia memberikan komentarnya atas fakta-fakta kebobrokan NIP yang dibeberkan oleh Fifflaren.

Dalam cuitan twitternya tersebut, ia menuliskan “Saya sangat paham dengan situasi kamu @Fifflaren, p.s. 2017-09-01 sampai 2018-06-20”. Komentar di twitter tersebut dilontarkan tepat 2 hari setelah Fifflaren mengungkapkan buruknya manajemen dari NIP. Nah, dari cuitan di twitter ini, rupanya ada yang menarik. Tanggal yang dicantumkan dalam postingan tersebut sepertinya mempunyai arti tersendiri.

Setelah ditelusuri, tanggal tersebut ternyata memang mempunyai makna khusus. Pada rentang waktu tersebut, Boobl4 masih membela tim asal Rusia, Quantum Bellator Fire. Tak hanya sampai di situ saja, pemain Counter Strike: Global Offensive professional asal Rusia ini juga menambahkan komentar bahwa sebanyak 95.000 dolar Amerika Serikat telah dicuri. Sungguh nominal yang tidak sedikit. Apalagi, jika nominal tersebut dirupiahkan, nominalnya bisa mencapai Rp 13 Miliar.

nwesports

Jika terbukti benar, QBF tentu sudah berbuat sangat tidak adil dengan Boobml4. Sama dengan NIP, sepertinya manajemen QBF ini juga cukup buruk karena tidak membayar royalti pemain seperti yang seharusnya.

Reaksi dari komunitas Counter Strike: Global Offensive pun cukup ramai. Robin “Fifflaren” Johansson yang juga diperlakukan secara tidak adil oleh NIP pun memberikan komentar. Lalu, Richard Lewis selaku jurnalis esports pun memberikan komentarnya untuk Boombl4.

Dalam komentarnya, jurnalis esports Richard Lewis menuliskan “Kamu tahu di mana mencariku. Pintu itu akan selalu terbuka untuk pemain mana pun”. Lalu, apakah Boombl4 akan melakukan langkah yang sama seperti yang ditempuh oleh Fifflaren?

Tak seperti apa yang kita lihat, manajemen esports di luar negeri sepertinya tak seindah itu. Mengurus sebuah organisasi esports yang besar memang tak mudah. Akan tetapi, setiap pihak seharusnya bisa menjaga kepercayaan masing-masing. Manajemen harus menghargai pemain dengan cara memberikan hak mereka dengan baik. Sayangnya, hal ini sering dilupakan oleh manajemen tim. Apa yang terjadi kepada Fifflaren ternyata juga terjadi kepada Boombl4. Mungkin, di luar sana ada juga banyak pemain yang bernasib sama seperti Fifflaren dan juga Boombl4.

Lalu, akankah Boombl4 melakukan wawancara terbuka dengan Richard Lewis seperti yang dilakukan oleh Fifflaren? Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda yang muncul. Boombl4 mungkin sudah sedikit membocorkan keburukan QBF secara tersirat. Akan tetapi, untuk menyatakannya secara terang-terangan, pemain yang satu ini sepertinya belum bisa memutuskan.

Fifflaren memang menjadi mantan pemain Counter Strike: Global Offensive yang berani membongkar kebobrokan tim yang pernah ia bela. Berkat keberaniannya tersebut, sepertinya beberapa pemain lain juga ikut mencoba membongkar kebobrokan mantan timnya. Lalu, apakah ini akan menjadi titik awal terbongkarnya tim-tim esports yang melakukan eksploitasi pemain? Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Dengan begitu, komunitas Counter Strike: Global Offensive akan tahu bagaimana keadaan di dalam tubuh organisasi esports.

Leave a Reply