Terungkap, Epsilon Esports Bayar Gaji Tak Sesuai Kontrak

Epsilon Esports

Setelah cuitan Twitter Smooya yang tak menyarankan publik untuk masuk Epsilon Esports, kini organisasi esports tersebut terungkap tak bayarkan gaji atlet sesuai dengan kontrak. Hal ini terungkap berdasarkan laporan yang sudah dirilis oleh Upcomer. Seperti apa kasus yang saat ini menimpa Epsilon Esports ini?

Dalam laporan Upcomer, beberapa mantan pemain H1Z1, Epsilon Esports, menyebutkan bahwa sang CEO sekaligus manajer tim Epsilon, Greg Champagne tidak membayarkan gaji atletnya sesuai dengan kontrak. Gaji yang diterima biasanya terlambat, bahkan ada juga atlet yang tidak dibayar sesuai dengan jumlah dalam kontrak.

Dilansir dari RevivalTV.id, setidaknya, ada dua pemain H1Z1 yang menyebutkan bahwa mereka tak dibayar sesuai kontrak. Di dalam kontrak, mereka seharusnya menerima gaji sebesar $50.000 atau sekitar Rp 710 juta. Akan tetapi, gaji sebenarnya yang mereka terima hanya tak sesuai dengan jumlah tersebut. Salah satu pemain mengatakan bahwa mereka hanya mendapatkan gaji sebesar $12.500 atau sekitar Rp 177 juta saja. Sementara pemain lain hanya mendapatkan gaji sebesar $9.000 atau sekitar Rp 127 juta. Gaji tersebut mereka terima selama 6 bulan menjadi bagian dari Epsilon.

Epsilon Esports
Epsilon Esports

Jika melihat kontrak, angka tersebut jelas tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Dalam 6 bulan, pemain seharusnya mengantongi gaji sebesar $25.000 atau sekitar Rp 355 juta. Nominal yang mereka terima jauh lebih rendah dari jumlah tersebut.

Pemain pun sempat melayangkan surat permintaan hukum melalui email kepada Greg selaku CEO. Dalam surat tersebut, para pemain meminta kepada pihak manajemen untuk segera membayarkan gaji yang menjadi hak mereka. Bahkan, para pemain pun sampai mengungkapkan tentang kesulitan finansial yang mereka alami. Sayangnya, mereka tak juga mendapatkan jawaban menyenangkan dari Greg. Sang CEO justru mengomentari bahwa cara yang dipakai mantan pemain H1Z1 “Kekanak-kanakan”. Ia tetap menahan gaji yang seharusnya diterima oleh atlet.

Tak hanya pemain H1Z1, hal serupa juga dialami oleh mantan pemain Counter Strike: Global Offensive Epsilon Esports. Satu mantan pemain mengungkapkan bahwa 90 persen gajinya selalu dibayarkan secara terlambat. Hanya satu kali saja Epsilon membayar gaji tepat waktu. Sampai hari ini, jumlah gaji yang ditunggak oleh Epsilon masih sekitar $1.680 atau jika dirupiahkan sekitar Rp 23 jutaan.

Epsilon Esports
Epsilon Esports

Mantan pemain CS: GO yang terang-terangan menyatakan protesnya adalah Smooya. Ia pun mengungkapkan bahwa selama masa baktinya dengan Epsilon, Smooya harus meminta gaji sebanyak 25 kali. Lalu, seperti biasa Greg tidak memberikan respon apa pun.

Tak hanya itu, Team EndPoint yang juga menjadi tim lama Smooya juga membeberkan masalah serupa. Sampai hari ini, Epsilon masih menunggak uang transfer Smooya. Saat CEO Team EndPoint , Adam  Jessop, mengajukan permintaan resmi, Epsilon tidak pernah menanggapinya.

Setelah laporan dari Upcomer resmi dirilis, komunitas esports pun merasa geram. Mereka membanjiri tweet Epsilon untuk segera membayarkan gaji atlet yang masih tertunggak. Laporan dari Upcomer ini pun memaksa Epsilon untuk menghapus tweet terbarunya yang berisi rekrutmen pemain baru.

Saat dihubungi oleh Upcomer, Greg pun memberikan pernyataannya. Menurutnya, saat ini Epsilon Esports Sudah membayar kewajibannya atau sedang dalam proses pembayaran sesuai kesepakatan dengan pemain. Terakhir, ia juga menambahkan bahwa Epsilon akan segera beroperasi kembali pada September mendatang usai melakukan perubahan formasi staff. Hal ini tentu bertolak belakang dengan pernyataan Vie.gg yang mengatakan bahwa Epsilon akan berhenti beroperasi karena mengalami masalah finansial.

Demikian adalah kabar terbaru tentang dunia esports. Cuitan Smooya, salah satu mantan pemain CS: GO dari Epsilon, rupanya berhasil membuat beberapa pihak ikut mengungkapkan kebobrokan dari organisasi esports ini. Lagi-lagi, kasus seperti ini diharapkan menjadi pelajaran bersama untuk semua organisasi esports di mana pun mereka berada. Organisasi esports seharusnya tak hanya fokus untuk mengejar gelar, tetapi harus juga didukung dengan hubungan internal yang harmonis.

Leave a Reply